Selasa, 21 Juni 2022

Resah Tak Tau Arah

Aku sering dibilang seperti cenayang, karena seringkali aku menebak sesuatu yang terjadi di sekitar. Bukan karena aku peduli, tapi lebih karena kebiasaanku untuk melakukan observasi dalam banyak hal. kemudian aku menganalisisnya menjadi berbagai hipotesis dan memilah hal yang sebenarnya terjadi. Kemampuan ini tampak sangat menguntungkan karena aku bisa dengan cepat melihat kondisi yang sebenarnya (jadi peka type of person). Namun itu semua berubah ketika aku harus menganalisis isi hati manusia. Ya benar hati manusia itu termasuk hatiku sendiri. Kemampuan analisis ku menjadi semakin rancu ketika aku dalam kondisi mood yang tidak begitu baik. Aku sadar betul hal ini membuatku overthinking dan berujung mencegahku untuk melakukan banyak hal.

Selasa, 08 Maret 2022

Batu Karang di Jerman

Inget ga kamu pernah pake baju biru dan berkeliling sebentar? Kurasa itu pertama kali aku berbinar melihatmu. Mungkin sejak saat itu, aku menyukai warna biru dan setiap melihatmu I feel so blue. Pernah juga kamu memakai baju itu saat bertemu denganku karena aku harus memberimu dokumen penting? Wah aku terlalu banyak memberi clue disini. Aku khawatir ini menjadi tidak misterius lagi hehe.. Judul kali ini adalah nama boneka keledai kecilku yg hilang saat aku mengikuti perlombaan. Lima huruf dua suku kata dalam bahasa jerman. Aku membuatnya menjadi nama akhirku juga dicerpenku sebelumnya. karena aku selalu ingin kamu menjadi akhir untukku. Lucu ya.. aku masih ingat dengan jelas sejarah ini.

Masih teringat jelas dipojokkan kamar aku menangis, menggenggam erat tanganku sendiri sambil meringkuk karena tak ingin suaraku tertembus pintu tipis itu. Aku bahkan masih ingat dengan baju biru dan celana abu aku hari itu. Perasaannya masih disini, terbungkus erat karena ku tepikan bertahun-tahun. Entah kenapa aku menangisinya dengan sekuat tenaga malam itu, aku juga lupa bagaimana awal mulanya, yang pasti, dadaku sesak dan aku ingin pergi. Entah mengapa aku jadi tau sesuatu yg ku tak ingin tau, seakan semesta memberiku bantuan. Entah untuk menyadarkan atau malah untuk menyakiti. Aku ingin meninggalkan perasaan itu sejauh mungkin, karena aku telah merasa perihnya akan terjatuh dari ekspektasi diri. Ekspektasi akan kamu dan aku yg bisa bersama, melakukan hal bersama, tapi aku selalu sadar diri dan akhirnya aku benar-benar pergi, hingga circle kita sangat berbeda. Aku menjadi bahagia karena bisa melihatmu dari jauh tanpa harus merasakan luka.

Sejenak aku lupa karena ada hal lain yg ingin kukejar, hingga suatu masa datang kesempatan untuk bersua kembali. Aku dan kamu dekat tapi hampir tak tersentuh, tak sering menyapa, tapi saling melihat kabar hingga familiar. Aku yg tak mau mendekat dan menyentuh garis batas semu antara kita dan kamu yg bagiku tak pernah menoleh ke arahku. Terkadang aku berpikir kita sama, saling membuat batas diri. Aku terus berpikir bahwa kamu sengaja menghindariku karena aku tak bisa denganmu. Dari pikiran itupun, aku membenci diriku yg selalu berhati-hati dan membuat suasana secanggung itu. Kamu yg sudah tidak tahan dengan itu, kemudian berinisiatif pergi tanpa persetujuanku. Dan aku menjadi kecil lagi lagi. Sebenarnya aku lelah, tapi hatiku terlampau luas. hingga ketika bersua, kamu seperti membawaku selangkah lebih dekat yg kupikir kita saling berjalan mendekat namun ternyata hanya aku yg melangkah dan kamu hanya menoleh kearahku sekilas. Lagi aku merasa harus berhenti dan menjauh.

Disini lah aku merasa semakin dewasa dan bisa berpikir dengan waras. Semesta memberiku kesempatan untuk lari darimu. Aku berhasil membuangmu di sudut paling belakang hatiku. Awalnya kupikir begitu, ternyata aku hanya menyimpannya. Tak ku pungkiri aku semakin bahagia tanpamu, namun sekelebat ingatan tentangmu masih saja tersiarkan diantara lamunanku. Entah mengapa. Aku sungguh pernah berpikir bagaimana akhirnya jika semesta memberiku pilihan antara kamu atau yg lain. Aku dengan penuh keyakinan akan menjawab yg lain kala itu, tapi entah sekarang. Kamu terasa hanya mengetukku untuk main sebentar lalu kembali tanpaku lagi. Itu yg membuat ku ragu.

Bertemu denganmu terakhir kali terasa seperti bermimpi sebentar. Iya benar karena mimpiku menjadi nyata. Aku merasa sangat bahagia hingga aku tak ingin bangun dan kembali, namun aku juga merasa takut. Aku takut karena terlalu bahagia, kesedihan apalagi yg akan menghampiriku kelak? seperti itu. 


I post this after a year make it as a draft.



Takut Memulai Lagi

 Malam ini seharusnya aku berkutat dengan file yang harus kupelajari untuk post test hari esok, tapi file nya terlalu banyak untuk sekedar aku baca sekilas, jadi terpikirkan untuk menulis saja.

Aku baik, lingkunganku baik, dan yang terpenting suasana hatiku baik. Aku masih seperti biasanya tak berbeda kurasa. Aku pikir sosok seusiaku harus segera memikirkan hal ini sekarang, tapi aku memilih tak mau karena sadar akan prioritas hidup yang tak sefairytale itu. Bukan aku tidak senang dengan fase orang lain, namun terkadang dibenakku terlalu banyak pikiran menyambar kenapa kenapa? Tidak bisakah aku hanya memikirkan diriku sendiri sekarang? Btw aku sudah berhasil menjauh dan memulai kehidupanku sendiri. yaps cita-citaku adalah bisa menata kehidupanku sendiri, terdengar egois tapi percayalah aku berjuang setengah mati untuk apa yang aku raih sekarang. Back to the topic 'itu'. Aku merasa masih belum siap untuk membangun percaya pada orang lain, mungkin terlebih pada diriku sendiri. Aku menilai fase itu adalah fase yang harus bisa kupertanggung jawabkan seumur hidup jadi aku sangat malas melaluinya karena rasa tanggung jawab. 

Aku masih merasa harus asik sendiri dengan duniaku, bermain dan belajar sendiri. Lucunya setiap aku berusaha menyukai seseorang, aku seperti merasa dejavu dan selalu berpikir ahh sesuatu seperti itu akan cepat berakhir dan aku terlalu malas untuk memulai kembali. Namun kabar baiknya, energi ketika menyukai seseorang ini bisa membuatku bersemangat hehe..

yaps benar aku sedang menyukai seseorang untuk saat ini. Di ekspektasiku dia cukup pintar dan bertanggung jawab tapi ntah aku belum pernah benar-benar dekat. Dia memiliki hobi yang sama dengan Jae, itu yang sebatas kutau. Well i think it just temporary feeling yang ga sengaja and someday i think the feeling will be past and i'll be ok then. Oh ya he is not the part of all circle that i have before so yah my friends wouldn't know him personally wkwk.