Inget ga kamu pernah pake baju biru dan berkeliling sebentar? Kurasa itu pertama kali aku berbinar melihatmu. Mungkin sejak saat itu, aku menyukai warna biru dan setiap melihatmu I feel so blue. Pernah juga kamu memakai baju itu saat bertemu denganku karena aku harus memberimu dokumen penting? Wah aku terlalu banyak memberi clue disini. Aku khawatir ini menjadi tidak misterius lagi hehe.. Judul kali ini adalah nama boneka keledai kecilku yg hilang saat aku mengikuti perlombaan. Lima huruf dua suku kata dalam bahasa jerman. Aku membuatnya menjadi nama akhirku juga dicerpenku sebelumnya. karena aku selalu ingin kamu menjadi akhir untukku. Lucu ya.. aku masih ingat dengan jelas sejarah ini.
Masih teringat jelas dipojokkan kamar aku menangis, menggenggam erat tanganku sendiri sambil meringkuk karena tak ingin suaraku tertembus pintu tipis itu. Aku bahkan masih ingat dengan baju biru dan celana abu aku hari itu. Perasaannya masih disini, terbungkus erat karena ku tepikan bertahun-tahun. Entah kenapa aku menangisinya dengan sekuat tenaga malam itu, aku juga lupa bagaimana awal mulanya, yang pasti, dadaku sesak dan aku ingin pergi. Entah mengapa aku jadi tau sesuatu yg ku tak ingin tau, seakan semesta memberiku bantuan. Entah untuk menyadarkan atau malah untuk menyakiti. Aku ingin meninggalkan perasaan itu sejauh mungkin, karena aku telah merasa perihnya akan terjatuh dari ekspektasi diri. Ekspektasi akan kamu dan aku yg bisa bersama, melakukan hal bersama, tapi aku selalu sadar diri dan akhirnya aku benar-benar pergi, hingga circle kita sangat berbeda. Aku menjadi bahagia karena bisa melihatmu dari jauh tanpa harus merasakan luka.
Sejenak aku lupa karena ada hal lain yg ingin kukejar, hingga suatu masa datang kesempatan untuk bersua kembali. Aku dan kamu dekat tapi hampir tak tersentuh, tak sering menyapa, tapi saling melihat kabar hingga familiar. Aku yg tak mau mendekat dan menyentuh garis batas semu antara kita dan kamu yg bagiku tak pernah menoleh ke arahku. Terkadang aku berpikir kita sama, saling membuat batas diri. Aku terus berpikir bahwa kamu sengaja menghindariku karena aku tak bisa denganmu. Dari pikiran itupun, aku membenci diriku yg selalu berhati-hati dan membuat suasana secanggung itu. Kamu yg sudah tidak tahan dengan itu, kemudian berinisiatif pergi tanpa persetujuanku. Dan aku menjadi kecil lagi lagi. Sebenarnya aku lelah, tapi hatiku terlampau luas. hingga ketika bersua, kamu seperti membawaku selangkah lebih dekat yg kupikir kita saling berjalan mendekat namun ternyata hanya aku yg melangkah dan kamu hanya menoleh kearahku sekilas. Lagi aku merasa harus berhenti dan menjauh.
Disini lah aku merasa semakin dewasa dan bisa berpikir dengan waras. Semesta memberiku kesempatan untuk lari darimu. Aku berhasil membuangmu di sudut paling belakang hatiku. Awalnya kupikir begitu, ternyata aku hanya menyimpannya. Tak ku pungkiri aku semakin bahagia tanpamu, namun sekelebat ingatan tentangmu masih saja tersiarkan diantara lamunanku. Entah mengapa. Aku sungguh pernah berpikir bagaimana akhirnya jika semesta memberiku pilihan antara kamu atau yg lain. Aku dengan penuh keyakinan akan menjawab yg lain kala itu, tapi entah sekarang. Kamu terasa hanya mengetukku untuk main sebentar lalu kembali tanpaku lagi. Itu yg membuat ku ragu.
Bertemu denganmu terakhir kali terasa seperti bermimpi sebentar. Iya benar karena mimpiku menjadi nyata. Aku merasa sangat bahagia hingga aku tak ingin bangun dan kembali, namun aku juga merasa takut. Aku takut karena terlalu bahagia, kesedihan apalagi yg akan menghampiriku kelak? seperti itu.
I post this after a year make it as a draft.